Paskah telah lama menjadi salah satu periode puncak yang paling dapat diandalkan dalam kalender perjalanan, terutama di seluruh Eropa, di mana liburan sekolah dan perayaan publik mendorong permintaan perjalanan yang kuat.
Pada tahun 2026, permintaan tersebut tetap kuat. Perjalanan masuk ke Inggris, misalnya, naik 13% secara tahunan selama periode Paskah, dengan pemesanan hotel meningkat sebesar 15%, menandakan momentum yang terus berlanjut untuk destinasi Eropa.
Namun, kombinasi ketegangan geopolitik, kenaikan biaya, dan gangguan operasional sedang mengubah cara dan tujuan perjalanan orang-orang.
Konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah telah menyebabkan:

Salah satu tren terpenting adalah meningkatnya pengaruh persepsi keamanan terhadap perilaku pemesanan.
Wisatawan tidak lagi mengevaluasi destinasi hanya berdasarkan harga atau daya tariknya. Sebaliknya, mereka bertanya:
Pergeseran ini mencerminkan temuan yang lebih luas bahwa permintaan pariwisata semakin dipengaruhi oleh persepsi risiko dan kepercayaan, bukan hanya biaya atau aksesibilitas.
Perjalanan Paskah pada tahun 2026 telah bergeser dari perjalanan jarak jauh ke perjalanan yang lebih pendek dan lebih dekat.

Beberapa faktor mendorong pergeseran ini:
Alih-alih liburan jarak jauh, banyak wisatawan memilih:
Hal ini mencerminkan pergeseran yang lebih luas menuju regionalisasi, terutama di Eropa, di mana para pelancong semakin memilih untuk tetap berada di dalam wilayah tersebut daripada melakukan perjalanan jarak jauh.
Data dan tren pemesanan juga menunjukkan pergeseran yang nyata menjauhi destinasi perkotaan besar.

Secara tradisional, kota-kota seperti Paris, Roma, dan London mendominasi perjalanan Paskah. Namun, pada tahun 2026, banyak wisatawan memilih:
Pada saat yang sama, permintaan meningkat pesat di kota-kota sekunder yang lebih terjangkau seperti Athena, Budapest, dan Krakow, yang mencerminkan pergeseran yang lebih luas ke arah pilihan destinasi yang didorong oleh nilai.
Pergeseran ini diperkuat oleh tren perjalanan yang lebih luas yang menunjukkan bahwa konsumen beralih dari pusat kota yang ramai ke destinasi yang lebih santai dan berorientasi pada pengalaman.
Guncangan energi global yang dipicu oleh konflik tersebut berdampak langsung pada harga perjalanan.
Gangguan pada pasokan energi dan rute pengiriman telah menyebabkan kenaikan tajam harga minyak, gas, dan bahan bakar jet, sehingga menaikkan biaya di seluruh sektor perjalanan.
Bagi maskapai penerbangan, hal ini berarti:
Tantangannya kini juga semakin berkaitan dengan ketersediaan. Meskipun pasokan bahan bakar global tetap terjaga, gangguan pada logistik dan transportasi berarti bahan bakar jet tidak selalu tersedia di tempat dan waktu yang dibutuhkan. Risiko ini semakin meningkat pada periode puncak.
Seiring perkembangan situasi, industri perjalanan beralih dari fase gangguan ke fase pembatasan.

Maskapai penerbangan tidak hanya menanggapi kenaikan biaya, tetapi juga menyesuaikan operasional untuk mengelola sumber daya yang terbatas. Hal ini meliputi:
Pada awal konflik, ribuan penerbangan dibatalkan secara global akibat gangguan ruang udara, yang menunjukkan betapa cepatnya kapasitas dapat menipis.
Bagi para pelancong, hal ini berarti pilihan yang lebih sedikit, ketersediaan yang lebih terbatas, dan persaingan yang lebih ketat untuk mendapatkan kursi.
Perilaku pemesanan terus berkembang:
Hal ini menyoroti pentingnya waktu, penargetan, dan fleksibilitas dalam menangkap permintaan.
Para pelancong masih antusias untuk bepergian. Namun, mereka membuat pilihan yang berbeda:
Di saat yang sama, industri ini beroperasi di bawah batasan-batasan baru di mana biaya, kapasitas, dan bahkan ketersediaan bahan bakar menentukan apa yang mungkin dilakukan.